Suka-suka panitia rekreasi Jogja

imagesSetengah mati panitia rekreasi Pensiunan Bank Jatim Malang mengurusnya setelah ada sebagian peserta membatalkan keberangkatan padahal panitia sudah kadung membeli Tiket Kereta Api.

Awalnya kami laporan kepada Bapak Ketua Paguyuban Pensiunan Bank Jatim Malang bahwa peserta rekreasi ke Yogyakarta sebanyak 26 (dua puluh enam) orang.

Dari hasil laporan panitia tersebut Bapak Ketua memerintahkan kepada kami sebagai panitia untuk segera membeli Tiket Kereta Api Malioboro Malang – Yogyakarta dengan alasan dan asumsi apabila berlama-lama tidak segera dibelikan Tiket bisa jadi kehabisan, sebab sekarang ini orang mau pergi naik Kereta Api satu bulan sebelumnya sudah harus membeli Tiket karena hari tanggal rekreasi sudah ditetapkan yaitu hari Jum’at tanggal 20 Maret 2015.

Panitia berdua datang ke Stasiun Baru Kota Malang, tidak terbayangkan sebelumnya bagaimana panjangnya antrian dan susahnya membeli Tiket sebanyak 26 orang Pergi Pulang (PP), yang berarti 52 (lia puluh dua) Tiket.

Berantri-antri panjang sambil berpikir bagaimana untuk mengatasi hal tersebut, kami berdua memutar otak (tak usah dibayangkan), bagaimana ini kalo kita sudah berada didepan loket apa kira-kira tidak dipisuh-pisuhi orang banyak yang berada dibelakang kita nanti saking lamanya.

Nah setelah berfikir lama kayaknya baru menemukan jalan keluar, Tiket Kereta Api kan bisa dibeli di Super Market, diputuskan kami berdua keluar dari antrian panjang, tetapi kalo beli di Super Market kita kan kena biaya Cas dari Super Market sebesar Rp. 7.000,- setiap Tiket yang berarti kita harus ngeluarin duwit Rp. 364.000,–(tiga ratus enam puluh empat ribu rupiah) yaitu Rp. 7.000 X 52 Tiket, waduuuh keluar sia-sia nih duit, emaaaan, ada pepatah mengatakan “Malu bertanya sesat di Stasiun” kita tanya dulu ke seorang Security bagaimana saran yang terbaik, jawaban dari Bapak Security membuat kami berdua plong rasanya.

Dengan saran “sebaiknya Bapak ngantri di Stasiun yang tidak rame, tinggal pilih di Stasiun Blimbing atau Stasiun Kota Lama, karena posisi kami di Stasiun Kota Baru dirasa lebih dekat ke Stasiun Kota Lama, akhirnya kami berdua meluncur ke Stasiun Kota Lama.

Ternyata benar di Stasiun Kota Lama kami dapat berlama-lama sebab memang sepi, ada 2 (dua) loket, loket 1 (satu) melayani pembelian antrian walaupun sepi, loket 2 (dua) kami pakai berlama-lama membeli Tiket sebanyak 52 (lima puluh dua) tanpa ada yang mengganggu-gugat, terbelilah Tiket Kereta Api Pergi-Pulang (PP) Malang-Jogja, dengan sedikit kelaparan sebab kami ngurus pembelian mulai pukul 09.00 – 13.00 siang baru rampung, trus cari rujak Amprong keluar dari kocek sendiri.

Setelah sehari Tiket terbeli ternyata beberapa peserta ada yang membatalkan “yaaa ampuuuun” kami urus lagi pembatalan, kami bertiga ke Stasiun Kota Lama sebab belinya disana, ternyata kami disuruh ngurus pembatalan di Stasiun Kota Baru, dengan segala resiko yang diterima dan kesulitan-kesulitannya, yaitu untuk pembatalan kita kena potongan sebesar 25% dari harga tiket yang bererti setiap tiket sebesar Rp. 165.000 X 25% = Rp. 41.250,- kalau 52 Tiket ya Rp. 41.250,- X 52 = Rp. 2.145.000,– (dua juta seratus empat puluh lima ribu rupiah) dan pengurusannya tidak semudah itu, pembatalan harus mengisi formulir Pembatalan, membuat Surat Kuasa yang ditanda tangani oleh seluruh pemegang tiket diatas materai Rp. 3.000,– (tiga ribu rupiah) yang berarti harus keluar duit lagi untuk 52 X Rp. 3.000,- = Rp. 156.000,– (seratus lima puluh enam ribu rupiah), itu belum cukup, panitia harus menunjukkan Identitas Asli (KTP asli) masing-masing.

Kalau penundaan bagaimana? ternyata malah lebih parah lagi aturannya, kita kena potongan sama dengan pembatalan, sisanya setelah dipotong suruh nambah sesuai dengan harga Tiket baru atau kena potong dan kena tambahan begitulah aturannya.

Panitia membuat 3 (tiga) Opsi yang ditawarkan kepada seluruh peserta :

  1. Batal
  2. Tunda
  3. Tetap berangkat

Ternyata dari ketiga Opsi tersebut sebagian besar dari peserta memilih batal, Panitia memutuskan batal dan mengurus pembatalan yang ruwet tersebut, saya keliling mendatangi peserta nyuwun bukti identitas yaitu Kartu Tanda Penduduk (KTP) asli. Setelah saya keliling ternyata masih ada yang menghendaki tetap berangkat.

Identifikasi ulang yang menghendaki tetap berangkat :

  1. Keluarga Ibu Satwasih
  2. Keluarga Bpk. Samidi
  3. Keluarga Bpk. Suyatno
  4. Pudjo Subandrio

Demikian akhir dari kepanitiaan yang pahit ini semoga menjadikan pelajaran yang berharga buat diri saya sendiri serta mohon do’a restunya saya tetap berangkat semoga ALLAH SWT selalu memberikan barokahnya, amiiiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s