Pengadilan Pembakar Rumah

Kemudian ketiga tokoh ini oleh orang-orang PKI mau diadili dan dibawa ke Kantor Polisi Sektor (Polsek) Tegaldlimo yang terletak di dekat lapangan Dam Limo kira-kira jam 14.00 siang. Dari kejadian inilah kemudian kelihatan mana yang PKI dan mana yang bukan PKI, sebab yang merasa dirinya orang PKI mereka berbaris dan berbondong-bondong codenya bahwa mereka orang PKI, mereka pada tidak memakai baju dan mukanya dicloneh-cloneh hitam aku menyaksikan sendiri kira-kira jam 14.00 siang itu orang-orang PKI itu berbaris di Pasar Tegaldlimo yang tidak begitu jauh dari rumah tinggalku, sampai sore hari dari seluruh pelosok desa di wilayah Kecamatan Tegaldlimo menuju Kantor Polsek Dam Limo dengan teriakan-teriakan “ganyang Gusmad, ganyang Yono, ganyang Abu Hasan”.

Cerita dari kakakku yang kebetulan dia Pemuda PNI, sore itu dia ikut menyelinap diantara orang-orang PKI itu di Polsek Dam Limo, kakakku disuruh copot baju juga karena ancaman-ancaman mereka, mengetahui kondisi yang demikian kakakku pulang seterusnya menghimpun seluruh pemuda PNI dan Pemuda Ansor mereka pada bersembunyi di sawah dekat rumahku memang rumahku adalah rumah mewah (mepet sawah maksudku) kakakku dan kawan-kawan memantau terus perkembangan. Konon katanya aparat pemerintahan (Polisi) melindungi ketiga tokoh ini, yaitu Agus Samad, AS Yono dan Abu Hasan ini, dan Polsek minta bantuan ABRI, Panser-Panser dari Jember dan Malang, kira-kira jam 22.00 malam datanglah panser-panser itu, sejak saat itu mereka mengadakan perundingan-perundingan yang hasilnya tidak ada kata sepakat malah Polsek mau dirobohkan oleh orang-orang PKI itu, dari Pengeras suara yang didengar orang-orang PKI itu disuruh membubarkan diri, tetapi mereka tidak ada yang bergeming, sekitar pukul 04.00 pagi dini hari Panser-panser itu memberikan tembakan keatas dengan berondongan yang memekakkan telinga pada waktu menjelang adzan subuh itu, aku mendengar berondongan itu aku sangat ketakutan, maka bubarlah mereka tidak ada yang tinggal satupun di Lapangan Dam Limo dan selamatlah Agus Samad, AS Yono dan Abu Hasan.

Setelah ketiga tokoh (Agus Samad, AS Yono, Abu Hasan) selamat dari amukan orang-orang PKI dan orang-orang PKI itu kembali kerumah masing-masing diberlakukanlah jam malam, ABRI berperan dan berkeliling keseluruh wilayah Kecamatan Tegaldlimo dengan memakai pengeras suara mengumumkan diberlakukannya Jam Malam, tanpa terkecuali diwaktu malam seluruh warga tidak diperbolehkan untuk keluar rumah, apabila ada orang berkeliaran diluar rumah Bapak ABRI akan menembaknya, maka hari-hari berikutnya malam hari tidak ada orang yang berani keluar rumah, dan disitulah orang-orang PKI yang pernah berbaris berbodong-bondong tanpa baju sewaktu menangkap dan mau mengganyang tiga orang tokoh NU dan PNI dulu itu hilang satu-persatu entah kemana, aku ingat suatu ketika pagi-pagi dekat pasar ada beberapa mobil Panser dan banyak tentara dengan pengeras suara mencari orang yang namanya Besar Suprayitno, siapa dia ternyata dia adalah Bupati Banyuwangi yang melarikan diri sebab dia seorang tokoh PKI yang dicari sampai masuk ke Alas Purwo.

Ada cerita bahwa orang-orang PKI yang hilang ini setiap malam diambil oleh ABRI dan ditampung di sebuah Mess yang terletak di daerah Kalibaru yang berdekatan dengan hutan Kumitir katanya, yang kemudian kira-kira satu bulan berikutnya terjadi pembantaian besar-besaran terhadap orang-orang PKI ini, seperti kejadian menjelang awal Bulan Ramadhan kira-kira bulan Desember 1965 dari situ banyak cerita antara lain :

Di desaku terjadilah hal yang sangat mengerikan, setiap malam terdengar suara tembakan dan paginya dijalan-jalan mesti ada mayat yang disayat lehernya dibabat perutnya terburai ususnya, aku menyaksikan sendiri waktu itu, awalnya sebelum dikebumikan ditempat dimana mayat itu berada, maka mayat-mayat itu diperiksa dulu oleh aparat pemerintahan Muspika, tetapi tambah lama kok bertambah banyak mayat-mayat di jalan-jalan akhirnya ya pokok ada mayat ya dikebumikan disitu, tanpa diperiksa lagi dan masih banyak cerita-cerita yang aneh-aneh, orang-orang PKI yang tidak diambil oleh ABRI dan masih kelihatan dirumah ternyata dieksekusi sendiri oleh orang-orang aku tidak tahu siapa yang melakukannya termasuk Wanita-wanita tokoh Gerwani serta tokoh-tokoh Kesenian Lekra yang selalu menyanyikan lagu Genjer-genjer, dulu sewaktu manggung dimana tempat, semua pada dihabisi dimalam hari, aku melihat sendiri ada mayat perempuan katanya tokoh Gerwani, maaf kedua susunya diiris dan disunduki didekat mayat itu dan ditaruh dipagar dipinggir jalan, sebenarnya masih banyak cerita-cerita yang sangat mengenaskan.

Disuatu malam rumah Budheku yang berdekatan dengan jalan raya desa. Malam itu budheku mendengar suara orang yang mengerang-ngerang dengan memohon diampuni dengan suara teriak-teriak, tidak lama kemudian terdengar suara cros-cros dan orang ngorok-ngorok, padahal budheku lagi hamil delapan bulan, saking takutnya budheku maka kandungan budhe yang sudah delapan bulan ini lama-kelamaan menjadi hilang, setelah pagi hari dilihat didekat rumah budhe ada mayat orang PKI yang dibabat ternyata pada waktu aku lihat dipagi harinya orang PKI yang meninggal didekat rumah budhe itu Pakbon sekolahku, aku sendiri tidak menyangka kalau Pakbon sekolahku adalah seorang PKI.

Ada lagi cerita di desa Taman Agung (Cemethuk) wilayah kecamatan Genteng Banyuwangi, desa ini adalah desa para perampok, garong, maling yang sangat terkenal tidak mempan senjata tajam konon seluruh desa adalah orang-orang PKI. Dan suka mencuri binatang ternak kerbau dan sapi, orang banyak bilang hewan yang dicuri Kerbau upamanya itu tanduknya bisa diubah-ubah bentuknya, sehingga seandainya yang empunya kerbau tersebut ketemu di jalan maka si empunya tidak akan menyangka bahwa hewan kerbau itu miliknya, sebab bentuk tanduknya sudah berubah. Desa Cemethuk ini pernah diserang oleh Pemuda-pemuda Ansor, tetapi orang-orang PKI Cemethuk menyamar sebagai pemuda Ansor, sehingga Pemuda Ansor dijebag dan banyak yang terbunuh. Suatu ketika Para Pemuda Ansor dan PNI mengadakan pembalasan orang sedesa dihabisi dibawa ke pantai Muncar, maka setelah terjadi pembantaian itu, tidak ada orang yang makan ikan laut sebab katanya banyak ditemukan jari-jari manusia diperut ikan.

Bantai-membantai berkurang menjelang bulan Ramadhon 1385 H. menurut kalender, atau akhir bulan Desember 1965, dan bulan-bulan berikutnya mereda dan aman, tetapi orang-orang yang dianggab masih tersangkut dengan PKI wajib lapor ke Koramil seminggu sekali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s