Aku Dikhitan

Bulan September 1965 aku tanggalnya lupa aku dikhitan, aku nggak tahu orang tuaku itu orang berada apa nggak, tetapi waktu aku dikhitan oleh orang tuaku, diadakan acara yang cukup istimewa menurutku sebab selama 2 malam 1 hari diadakan tontonan terus menerus, malam pertama nanggab Janger Banyuwangi, ramainya bukan main, siang harinya tontonan Wayang Kulit sampai malam berikutnya dalangnya masih saudara sendiri yaitu Paklik Darto atau lebih dikenal dengan dalang Kuru, inilah mungkin yang bisa menekan biaya dalangnya saudara sendiri, sunat belum sembuh geger G 30 S PKI.

G 30 S PKI :

Memang sewaktu aku kelas 5 ini kayaknya perekonomian kita (Indonesia) agak susah dan sengsara, sebab aku tidak jarang oleh Ibuku disuruh ngantri beli minyak Gas kadang-kadang ngantri beli gula, itupun dijatah dan ngantrinya puuuanjang……

Tetapi didesaku pada waktu itu sering sekali ada tontonan Pasar Malam di suatu lapangan Tegalsari dekat tempat tinggalku, kalau sudah begitu ramainya bukan main, tidak tua tidak muda pada naik yang namanya ombak banyu, yaitu lingkaran besar dari kayu yang digantung dengan kawat-kawat besar, dinaiki beberapa orang, kemudian didorong oleh petugas-patugas pendorong maka berputarlah ombak banyu itu naik turun dan yang naik bersorak-sorak melampiaskan kegembiraannya.

Begitu meletus peristiwa G 30 S PKI, ternyata yang berpestaria dan bersukacita itu adalah orang-orang PKI, yang konon telah merencanakan merebut kekuasaan yang syah itu dari pemerintahan Presiden Soekarno, dan pada waktu itu ayahku disuruh bikin lubang-lubang yang katanya untuk program menanam pisang.

Lebih-lebih sebelum terjadi peristiwa G 30 S itu setiap, ada hari-hari besar Nasional Agustusan upamanya dan hari besar lainnya, tiga Partai itu yaitu Partai Komunis (PKI), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Partai Nahdatul Ulama (NU) yang pada waktu itu lebih dikenal dengan NASAKOM (Nasional Agama Komunis), sepertinya pada pamer kekuatan dan unjuk kehebatan seperti Pakaian-pakaian yang dikenakan ataupun lewat Drum Bend yang dipamerkan dan saling memancing keributan-keributan.

Aku melihat sendiri didesaku kalau ada tontonan Jaranan Buto, Jaran Buto adalah jaranan (Kuda-kudaan yang dibuat dari anyaman bambu) yang badannya kuda tetapi kepalanya buto gambar wayang, kemudian penarinya bukan pegang cambuk, itu kalau Jaranan biasa ini penarinya pegang Klewang yang panjang (seperti Samurai), klewang yang dipegang ini saling dibabatkan ketubuh temannya walaupun begitu tidak bisa melukai teman seolah-olah kulitnya tembaga otot kawat tulang besi, begitu sepertinya orang-orang PKI ini pada pamer kekuatan, belum kesenian LEKRA (Lembaga Kesenian Rakyat) dengan lagu genjer-genjernya selalu dikumandangkan dan dipertontonkan disetiap kesempatan, dan selalu memancing mancing keributan, pemuda-pemudanya terlihat orang jawa bilang seperti brangasan.

Ada kakak temanku saudara sekandung gara-gara perbedaan pandangan mengenai Partai ini mereka pada bermusuhan dan sewaktu pecah G 30 S PKI mereka saling bunuh dan masih banyak cerita-cerita lain mengenai G 30 S PKI.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s