Bab I

Anak Desa Yang Takut Dengan Ibunya
Masuk Sekolah Dasar (SD)
Kira-kira usia 8(delapan) tahun aku didaftarkan masuk sekolah SD (Sekolah Dasar) oleh Ibuku, aku didaftarkan di SD Negeri Tegalsari I tahun 1960. Kepala SDN dimana aku didaftarkan sekolah adalah Bapak Tjiptosanyoto (Alm). Dalam satu kelas waktu itu sekitar 50 orang anak, sewaktu masuk kelas 1 sampai dengan kelas 2 Guru yang mengajar namanya Bapak Maryono Salim yang tinggalnya berdekatan dengan sekolah SD aku, naik ke kelas 3 Guru yang mengajar Bapak Samuri, kelas 4 Guru yang mengajar Bapak Djoni, kelas 5 Bapak Abdullah Mariono, naik kelas 6 yang mengajar Bapak Djoni yang pernah mengajar diwaktu kelas 4 dulu, sedangkan guru Agama Islam adalah Bapak Suradi Ganden dan Bapak Muchsin.

Peristiwa demi Peristiwa :
Mencuri buku :
Di akhir tahun tetapi masih dikelas 4 Sekolahan aku roboh karena dimakan rayap. Sebab dinding sekolahan dibuat dari papan, sewaktu bapak guru menyuruh membersihkan kelas ada dua almari buku yang tidak bisa dibuka, akhirnya dibuka dengan paksa setelah terbuka ternyata buku 2 almari tersebut dudah habis dimakan rayap, lucunya beberapa bulan sebelumnya aku mencuri berbagai buku dari almari yang dimakan rayab tersebut, ceritanya pada suatu ketika bertepanan dengan musim rendeng jadi memang setiap hari hujan, aku berangkat sekolah aku memang termasuk anak yang rajin masuk sekolah walaupun hujan deras dan banjir aku tetap masuk, sesampai disekolah ternyata belum ada anak satupun yang sudah datang satu-satunya teman yang sudah ada yaitu si Wallahu teman satu kelasku dan aku lihat sekolahan bocor disana-sini, termasuk air yang bocor itu mengguyur salah satu lemari buku, aku sama Wallahu berupaya menyelamatkan buku-buku dari Almari tetapi almari dikunci dan tidak bisa dibuka, dengan segala upaya dan reka yasa anak dua itu akhirnya aku bisa menyelamatkan buku seisi almari, pada waktu itu memang hujan deras dan banjir besar sampai beberapa saat tidak ada Bapak Guru yang datang ke sekolah dan juga teman-teman sekelas tidak datang juga, buku-buku itu aku taruh di meja Pak Guru, nah pada waktu aku pulang dari sekolahan itulah aku bersama Wallahu mengambil beberapa buku yang menurut aku buku yang bagus-bagus, dan esok harinya aku berserta Wallahu bak pahlawan menyelamatkan berbagai buku dari salah satu almari yang kebocoran itu, ada buku yang sudah terlanjur basah sama teman-teman di isis supaya kering sebab memang tidak ada matahari dan lain sebagainya pokoknya upaya untuk menyelamatkan buku-buku itu supaya tidak rusak, jadi walaupun aku berdua dengan Wallahu mencuri tetap mendapat pahala sebab menyelamatkan sebagian buku akhirnya buku-buku itu juga dikembalikan lagi ke almari semula, yang beberapa bulan kemudian ternyata habis dimakan rayap.

Setelah Sekolahan Roboh :
Karena tidak punya bangunan sekolahan maka belajar mengajar berpindah-pindah yaitu pinjam ruangan rumah tempat tinggal untuk dijadikan ruang kelas, awalnya rumah Bapak Kardjono yang tinggalnya bersebelahan dengan sekolahan yang roboh tersebut, putranya Bapak Kardjono ini diantaranya ada yang menjadi teman sekelas aku namanya Sumardji, selanjutnya pindah lagi ruangan kelas dirumahnya Bapak Sardjono, bapak Sardjono ini adalah mertua dari Bapak Djoni Guru yang mengajar kelas 4, pindah lagi dirumahnya bapak Maryono Salim begitu berpindah-pindah terus sampai naik kekelas 5.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s